My School, My Heaven
Esjiro, itu
sekolah favoritku sejak SD. Aku menyukainya karena banyak prestasi yang
ditunjukkan oleh siswa Esjiro. Selain terkenal prestasinya, Esjiro juga
terkenal dengan lingkungannya yang nyaman dan asri. Itu terbukti dengan
berkibarnya bendera Esjiro di tingkat propinsi karena Adiwiyata. Esjiro telah
melakukan usaha-usaha yang sangat amaizing
untuk mencegah kerusakan lingkungan dan melestarikan lingkungan. Mulai dari
pemisahan sampah, pengumpulan sampah dan pengelolaan sampah. Juga dengan
taman-tamannya yang sungguh subur. Upaya ini dilakukan dengan adanya kegiatan
pengembangan diri Adiwiyata dan Jumat Bersih. Ketercapaian usaha itu juga
karena peran siswa yang memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan. Di
Esjiro, lahan-lahan yang kosong juga dapat dijadikan perkebunan dan kolam ikan.
Esjiro juga memiliki lingkungan yang hampir mendekati sempurna.
Di lingkungan
Esjiro banyak fasilitas-fasilitas mengenai lingkungan yang memadai, seperti
bank sampah “tuwuh”, kolam ikan, perkebunan, biopori dan tempat sampah organik. Untuk bank sampah,
saya baru melihat ada bank di sekolah dan yang lebih menarik bank itu adalah untuk
menyimpan sampah bukan uang. Kolam ikan di Esjiro cukup besar dan luas.
Perkebunan dan pembibitan tanaman menurut saya sangat baik. Esjiro bukan hanya
sekolah untuk mencari pengetahuan formal tapi juga nonformal, seperti
pembibitan ikan dan tanaman.
Dan fasilitas
yang juga langka untuk ditemukan di sekolah-sekolah lain yaitu biopori. Biopori
merupakan sarana yang digunakan untuk penyerapan air tanah dan juga dapat
membuang sampah organik dan dapat membusuk sehingga dapat mempercepat penyerapan
air. Saya mempunyai puisi yang dapat membuat kita lebih semangat untuk menjaga
lingkungan :

Tumbuhan, Pahlawan Bumiku
Karya : Argi Noor Hidayat
Tumbuhan,
Kau hijaukan sekolahku
Kau hijaukan taman depan kelasku
Kau hijaukan mataku
Kau
memang penyegar hatiku
Walau
ku lupa memberimu makanan
Tapi
kau tetap dapat hidup
Hanya
dengan akarmu kau mengais air
Tumbuhan,
Kau penyelamat hidup kami
Tanpamu kami akan tenggelam dalam
bara api
Kau bagai AC dalam bumi kami
Wahai
tumbuhan,
Hanya
setetes air tanda maaf kami
Tapi,
Semoga
engkau tetap tegar menjaga bumi kami
Semoga, puisi
tadi dapat menyadarkan kita bahwa tumbuhan yang tak bisa begerak bebas dapat
menyelamatkan bumi kita. Sedangkan kita yang dapat berpikir dan bergerak bebas
malah merusak tempat hidup kita sendiri.


Ikan nila ikan buntal Ada daun dimakan serangga
Dijual bebas di tanah abang Serangganya adalah
belalang
Kalau saya dapat mengingatkan Kalau ingin hidup segar
Jaga bumi, tanam
tumbuhan Rawat tumbuhan, stop
penebangan
Sedikit
hiburan pantun yang mungkin juga dapat menarik minat untuk mencintai lingkungan
kita. Kembali ke Esjiro, . . . .
Saat
ini Esjiro lagi menggalakkan siswanya untuk lebih mencintai lingkungan dengan
diwajibkannya setiap Jumat Bersih siswa diharuskan merawat tanaman yang ada di
taman bagiannya secara baik dan juga untuk kebersihan di dalam kelas juga
diperhatikan dengan mengepel setiap Jum’at. Tujuan diadakannya usaha-usaha
mencintai lingkungan (adiwiyata)
adalah mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan, karena
di saat ini, bumi kita sudah berkeringat karena suhunya yang tinggi.
Untuk
mengembalikan bumi menjadi stabil, pendidikan adiwiyata ini harus digalakkan
mulai sejak dini. Karena menurut salah satu guru saya, jika pendidikan
adiwiyata disini tidak diterapkan sejak dini, maka kesadaran akan pentingnya
lingkungan tidak akan tumbuh, sehingga manusia dewasa tidak kasihan kepada bumi
yang semakin renta.
Dengan
upaya-upaya yang ditempuh Esjiro ini, semoga siswa lebih memiliki kesadaran
akan pentingnya tumbuhan untuk kelestarian bumi dan dapat dijadikan bekal untuk
pemikiran saat kita dewasa agar tidak suka merusak lingkungan kita.
“ SAVE EARTH, SAVE LIFE AND SAVE PLANT “