Memahami
Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)
Emosi adalah hal yang sangat sering kita alami dalam
hidup. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci,
cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah sebagai akibat dari atau hanya
sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.
Membahas soal emosi maka sangat kait eratannya dengan
memahami kecerdasan emosi (Emotional
Quotient), dimana merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri
sendiri, bertahan menghadap frustasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan,
kesedihan, kemarahan, dan lain-lain) dan tidak melebih-lebihkan kesenangan,
mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres.
Emosi dalam makna paling harfiah didefinisikan
dalam Oxford English Dictionary sebagai setiap
kegiatan atau pengelolaan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang
hebat, meluap-luap.
Emosi merupakan sebuah pengalaman rasa, kita merasakan
adanya emosi, kita tidak sekedar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakan
atau melakukan sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita
akan meresponnya, biasanya diikuti dengan pikiran yang ada hubungannya
dengan perkataan tersebut, psikis, dan juga hasrat untuk melakukan sesuatu.
Kecerdasan emosional pertama kali
dilontarkan pada tahun 1990 oleh Peter
Salovey dan John
Mayer, beberapa devinisi kecerdasan emosional menurut para ahli
sebagai mana dicatat oleh Achmad Pathoni sebagai berikut:
- Dalam buku karya Shapiro, Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “himpunan bagian dari kecerdasan yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan”.
- Menurut Jeane Segal, kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi antar pribadi yang bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial.
- Menurut Robert K Cooper dalam bukunya menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menetapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi.
- Menurut Usman Najati mengartikan EQ (Emosional Quotient) sebagai sebuah kecerdasan yang bisa memotivasi kondisi psikologis menjadi pribadi-pribadi yang matang.
- Sedangkan menurut Danies Goleman mengartikan kecerdasan emosional itu sebagai kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, mampu mengelola emosi, mampu memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.
Sedangkan kecerdasan emosi adalah kemampuan
seseorang dalam mengendalikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran,
perasaaan, nafsu, setiap keadaan mental yang meluap-luap yang di dasarkan pada
pikiran yang sehat.
Kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali
perasaan kita sendiri dan perasaaan orang lain , kemampuan memotivasi diri
sendiri, dan kemampuan mengelola emosi, dengan baik pada diri sendiri dan dalam
hubungan dengan orang lain.
Kecerdasan emosi adalah kekuatan di balik singgasana
intelektual”. Ia merupakan dasar-dasar pembentukan emosi yang mencangkup
ketrampilan anda untuk:
- Menunda kepuasan dan mengendalikan implus
- Tetap optimis jika berhadapan dengan kemalangan
- Menyalurkan emosi-emosi yang kuat secara efektif.
- Mampu memotivasi dan menjaga semangat disiplin diri dalam usaha mencapai tujuan.
- Menangani kelemahan-kelemahan pribadi.
- Menunjukkan rasa empati pada orang lain.
- Membangun kecerdasan diri dan pemahaman pribadi.
“Secara konvensional kecerdasan emosi diartikan
sebagai kemapuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta
mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif”.
Secara ringkas kecerdasan emosi adalah kemampuan
untuk mengerti dan mengendalikan emosi yang meliputi motivasi, pengendalian
diri, semangat, ketekunan yang termasuk di dalamnya meliputi kemampuan untuk
membina hubungan dengan orang lain, memiliki rasa empati (membaca perasaan
orang terdalam).
IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir
kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EQ lebih
banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin
mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah.
Karena untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan
kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara
baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.
Kecerdasan emosi bukan merupakan bakat, tapi aspek
emosi di dalam diri kita yang bisa dikembangkan dan dilatih. Jadi setiap orang
sudah dianugerahi oleh Tuhan kecerdasan emosi. Tinggal sejauh mana
pengembangannya, itu tergantung kemauan kita sendiri. Satu yang pasti,
kecerdasan emosiolan kita akan terbentuk dengan baik apabila dilatih dan
dikembangkan secara intensif dengan cara, metode dan waktu yang tepat.