SINOPSIS
“Di Bibir Pusaran Prahara”
Diangkat dari kisah penulis sendiri, buku “Di Bibir
Pusaran Prahara” menceritakan kekejaman peristiwa Gerakan Tigapuluh September
(Gestapu) yang didalangi bukan hanya orang Indonesia sendiri tetapi juga ada
unsur dari Luar Indonesia yang berkepentingan dan ingin menghancurkan Indonesia
setelah memperoleh kemerdekaan. Ratusan ribu orang harus tewas di korbankan
dalam peristiwa ini, dari mulai anak sampai cucu mereka juga masih terseret
imbas dari peristiwa ini.
Setelah kurang lebih 20 tahun Indonesia merdeka, orang
Indonesia menjalani penuh rintangan untuk memulai pembangunan bangsa. Salah
satunya mereka harus menjalani pahitnya peristiwa Gerakan Tigapuluh September
(Gestapu) yang menyebabkan kerusakan
parah dan korban tewas yang sangat banyak.
Orang-orang berpakaian sipil dimulai pada suatu malam
mulai menahan orang-orang Indonesia yang sibuk bersiap-siap menyambut datangnya
hari raya nasional termasuk. Sebelumnya juga telah terampas kemerdekaan
Indonesia ketika orang-orang berpakaian sipil mulai masuk ke salah satu rumah
dan menyandra pemiliknya. Satu per satu orang termasuk saya yang datang ke sana
akan ikut disandra. Kami tampak pucat.
Setelah cukup lama dan banyak orang yang ditahan, kami
dipindahkan ke gedung besar di daerah Gunungsahari, Jakarta. Sampai di sana
kami digiring ke ruangan di lantai bawah gedung itu. Kami duduk berderetan
sambil terdengar suara music lagu-lagu barat yang keras. Satu per satu kami di
panggil untuk diperiksa dan disiksa. Saya termasuk orang yang beruntung karena
tidak disiksa.
Setelah banyak korban tervonis mati, kami yang masih
selamat dipindahkan ke Markas Operasi Kalong. Di sana juga mirip dengan gedung
sebelumnya tetapi di sana kami tidak diperbolehkan berbincang-bincang dengan
penghuni lain. Kalau ada yang ketahuan berdialog dengan penghuni lain kami bisa
diduga saling kenal. Ternyata kami ditangkap hanya untuk mencari seseorang yang
tidak disebutkan namanya. Ketika saya ada di dapur, saya bertemu orang yang
mungkin pernah saya kenal. Dia adalah Pak Udi biasa dipanggil Lurah. Ternyata
Pak Udi adalah orang yang baik. Paginya, saya diperiksa dengan pengawasan Mayor
Suroso (ketua Operasi Kalong) dan hasilnya saya lolos lagi dari kekerasan.
Setelah cukup lama di Markas Operasi Kalong, kami
dipindahkan lagi ke tempat lain, yaitu Lidikus. Di sana merupakan tempat
tahanan yang sangat besar dan tertib. Kami diperbolehkan kontak dengan
keluarga. Kesempatan ini digunakan ibu saya untuk mengunjunmgi saya dan
menyelidiki bagaiamana saya bisa masuk ke Lidikus ini. Di tempat ini, banyak
orang yang hanya terduga melakukan kejahatan ditangkap walau belum terbukti. Setelah
merasakan kekejaman di penjara-penjara sebelumnya sebagian kami lolos
pemeriksaan Lidikus.
Kami yang lolos tadi, dipindahkan ke Salemba. Penjara
Salemba adalah bangunan yang sudah ada sejak zaman Belanda. Salemba merupakan
bangunan yang terbagi menjadi blog-blog tersendiri. Di sana sudah cukup ringan
dari pada penjara-penjara sebelumnya. Kami diperbolehkan berdialog, makan
bersama, dijenguk keluarga dengan lumayan bebas. Tetapi disamping itu kami juga
harus mengerjakan tugas yang diberikan petugas Salemba. Lama-kelamaan kami
lumayan tenang berada di Salemba. Kami bisa tidur cukup, makan enak, suasana
damai, dll. Setalah cukup lama, kami dipindahkan lagi ke Tangerang.
Sebagaimana halnya penjara Salemba maka penjara Tangerang
ini agaknya memang juga sudah ada sejak sebelum RI lahir. Di sana juga terdapat
blog-blog tertentu, misalnya blog A, B, C untuk tahanan politik. Kami di sana
mendapatkan kiriman makanan, kadang berasal dari keluarga kami dan seringnya
dari petugas penjara. Walaupun begitu, kita tidak bisa dikatakan makan terus
menerus. Pernah saya memakan daging tikus got karena ulah dari tahanan lain
yaitu Misbach. Saya menjadi bahan cecaan. Karena cuaca di sana tidak baik, saya
pernah masuk angin. Dengan kerokan saya sembuh. Di sana memang sulit mendapatkan
layanan kesehatan. Setelah berbagai kegiatan dikerjakan. Saya akhirnya di
bebaskan.
Berada di rumah, saya butuh penyesuaian dari awal. Saya
mengingat-ingat betapa jijiknya di penjara. Setelah beberapa hari, akhirnya
saya sudah bisa menyesuaikan diri saya. Setelah resmi dibebaskan, saya mulai
mengurus KTP kepada perangkat desa. Saya sudah menyelesaikan syarat-syaratnya.
Setelah saya ambil KTP di kelurahan, saya melihat di nomor KTP terselip kode ET
(Eks Tahanan Politik). Penyisipan kode ini terus berlanjut meskipun sudah
mencukupi umur KTP untuk identitas diri. Pemilik kode ET harus menyandangnya
sepanjang hayat.
Buku ini merupakan secuil pengalaman seseorang dari
mereka yang berada di bibir prahara peristiwa tersebut. Banyak juga hal yang
dapat dipelajari dari buku ini. Paling tidak buku ini bisa menjadi pengingat
tempoe doeloe ketika detik-detik pembangunan bangsa Indonesia baru dimulai.
Semoga bisa menjadikan pelajaran untuk menghargai dan mengisi kemerdekaan
dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.